RAMBUT NISA(Challenge For Publishing week 2
RAMBUT NISA
Ulangan semester ganjil
telah usai, Ibu Ani selaku wali kelas, memberi tantangan kepada anak-anak kelas 3,
“siapa yang bisa menghafal Q.S Al Mauun
beserta artinya akan hadian uang sepuluh
ribu rupiah.” Seru Bu Ani sambil menunjukkan beberapa lembar uang Rp 10 000,-
“Horeee”girang
anak-anak kelas 3.
“Yang sudah hafal
silahkan maju kedepan,” perintah Bu Ani.
Nisa segera maju kedepan berdiri tepat di depan Bu
Ani,
“Kamu sudah hafal Nisa?”
“Sudah Bu” jawab Nisa dengan semangat.
Dengan lantang Nisa menghafal Q.S Al Mauun, yang
diawali dengan bacaan taawud.
“Prok-prok-prok” tepuk
tangan Bu Ani yang diikuti oleh anak-anak kelas 3,
”Bagus Nisa ini hadiah
untuk mu,” puji Bu Ani sambil menyerahkan uang Rp10 000,-
“Hayo siapa lagi?hadiahnya
masih banyak lho?” seru Bu Ani sambil menunjukkan uang yang berada do
tangannya.
Bayu maju kedepan ”saya sudah hafal Bu” seru bayu
penuh semangat. Dengan lantang bayu menghafalkan Q.S Al mauun, “Bagus bayu, ini
hadiah untukmu,”seru Bu Ani sambil menyerahkan hadiahnya.
“Teeeeeeeet”
bel panjang berbunyi menandakan selesai kegiatan belajar, sekaligus sebagai
penanda waktu pulang.
“Selamat
Siang anak-anak,Wassalamualaikum Warohmatullohi
Wabarokatu, dirumah tetap belajar, bagi yang hari ini belum maju bisa di
hafalkan di rumah, besok kita lanjutkan pemberian hadiah pagi yang sudah hafal.”
Ucap Bu Ani memberi salam penutup.
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatu,” Serentak jawaban anak-anak sambil
berlari keluar kelas.
Nisa
dan Bayu senang sekali mendapatkan hadiah uang Rp 10 000,- sambil berjalan
keluar kelas mereka asik mengobrol untuk membelajakan uangnya.
“Kamu
belikan apa uangmu Nisa?” tanya bayu
“Uangku
aku belikan permen karet semua itu yang bisa di buat balon di mulut seperti
yang ada di televisi” sahut Nisa dengan semangat.
Nisa menuju kantin sekolah yang kebeltulan masih
buka dan segera membelanjakan semua uang
hadiahnya untuk membeli permen karet. Sesampai di rumah nisa menyembuyikan
semua permen karetnya di bawah tempat tidurnya, ia tidak menceritakan kepada
ibu kalau mendapat hadiah uang dan membeli permen karet banyak sekali.
Mandi,
makan siang kemudian sholat dzuhur berjamaah di mushola merupakan rutinitas siang hari bagi nisa,
usai sholat nisa masuk kamar dan tidur siang.
“Asiik
aku mau main permen karet sepuasnya didalam kamar” girang nisa sambil membuka bungkusan permen karet.
Nisa membuka semua bungkusan permen karet, mengunyah, meniup sampai membentuk balon dia senang
sekali bisa puas bermain permen karet,
kalau ada ibu pasti dilarang, bathin nisa sambil terus bermain balon permen
karet, puas bermain dan kecapekan ia
tertidur dengan mulut penuh permen
karet kemudian sisa permen itu terjatuh di kamar tidur.
Pukul
15:30 ibu mengetuk pintu kamar nisa, “ Nisa bangun sudah soreb, kenapa pintunya
di kunci?” teriak ibu dari balik pintu. “Iya Ibu” jawab Nisa sambil menahan
kantuk dan berjalan menuju pintu untuk membuka kunci.
“Cekrek”
suara kunci pintu terbuka, ibu segera membuka pintu, “Kamu...” suara ibu
terhenti memandangi rambut nisa yang berantakan dan lantai kamar yang kotor
sisa bungkus permen karet. Ibu segera memeriksa rambut nisa yang tergerai
berantakan.
“Ya
Allah... Nisa...!” teriak ibu sambil menuntun nisa menuju cermin yang ada
dilemari. Nisa tersentak kaget melihat rambutnya yang berantakan dan ada sisa
permen karet menempel di rambutnya, ia segera mencari sisir dan mencoba
menyisir rambutnya secara berlahan berharap permen karet yang menempel bisa lepas,
usahanya nihil, “Hu hu hu” tangis nisa pecah
melihat rambutnya lengket kena permen karet, “Ibu tolong” rengek nisa
pada ibunya, “Permen karet itu tidak bisa lepas kalau hanya di sisir, jalan
satu satunya rambutmu harus di potong” seru ibu sambil membereskan tempat tidur
nisa.
“Dipotong”
jerit nisa tidak percaya, susah payah ia memanjangkan rambut cantiknya sampai
bawah bahu harus di potong pendek gara-gara permen karet. “Ayo sekarang
dibereskan dulu kamar tidurnya” perintah ibu membuyarkan lamunan nisa yang
berada didepan cermin.
Ibu
dan nisa membereskan tempat tidur dan sisa permen karet dikamar nisa kemudian
ibu mengajak nisa keibelakang rumah sambil membawa gunting dan kursi untu
memotong rambut nisa.”Sudah Ibu, jangan pendek-pendek nanti aku malu pergi
kesekolah,” rengek nisa sambil terus
memegangi rambutnya, “ini belum selesai Nisa, lihatlah rambutmu terlihat
panjang sebelah” seru ibu sambil menunjukkan cermin didepan nisa, “gak papa ibu
panjang sebelah, yang penting sisa permen karet sudah hilang,” sela nisa sambil
memegang gunting ibu supaya menghentikan memotong rambutnya. “Ya sudah sekarang
kamu mandi dan keramas, supaya sisa permen hilang” perintah ibu.
Usai
mandi dan sholat asyar ibu mendekati nisa yang masih memandangi rambutnya
dicermin. “Nisa, kebersihan itu sebagian dari iman, kalau kamu menjaga kamarmu
dan membuang sampah permen pada tempatnya rambutmu tidak akan jadi korban”
nasehat ibu.
“hu-hu-hu”tangis
nisa kembali pecah sambil memeluk ibu dan menceritakan bagaimana dia
mendapatkan uang dan menghabiskan semuanya.
“Nisa,
belilah apa yang kamu butuhkan bukan apa yang kamu inginkan, kalau kamu punya
uang sebaiknya bijak dalam membelanjakan yang bermanfaat dan sisanya di tabung serta
jangan lupa sedekah.” Nasehat ibu. “Iya
Ibu maaf, Nisa berjanji tidak akan mengulangi lagi,” seru nisa sambil memeluk
ibu.
Keesok
harinya disekolahan teman-teman nisa keheranan dan ada yang menertawakan nisa
karna melihat rambut nisa panjang sebelah, nisa tampak santai dan senyum-senyum
karna menyadari kesalahannya,”besok aku kesekolahan mau pakai jilbab biar
rambutku tidak kelihatan” gumam nisa didalam hati sambil tersenyum.
Penulis
yang bernama Ni’matul Hasanah menyukai
dunia literasi sejak ada pandemi covid tahun 2019, untuk mengisi waktu luang di
rumah mengikuti pelatihan menulis secara online, kegiatan penulis sebagai praktisi pendidikan
anak usia dini dan ibu dari 3 anak lahir
di kota tahu kediri, bisa dihubungi lewat email nnikmahh@gmail.com
Komentar
Posting Komentar